Preman di Sini, Preman di Sana

Kelompok preman juga meruyak di berbagai kota besar. Mereka membagi wilayah kekuasaannya, tak ubahnya seperti memotong-motong kue. Siapa mereka dan bisnis apa yang digarap kaum preman? Bagaimana hubungan mereka dengan penguasa keamanan resmi? Inilah jepretan di beberapa tempat.

# MEDAN

Kalau ada bisnis yang mampu mencirikan, sekaligus menghidupkan kota Medan, barangkali itu perjudian dan bisnis sektor hiburan. Betapa tidak. Cobalah Anda berjalan-jalan di kawasan Petisah yang acap dijuluki sebagai kota yang tak pernah mati. Kegiatan bisnis pada pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari berjalan amat dinamis. Pada pagi hari sampai sore, kawasan Petisah, misalnya di Jalan Nibung Raya, diwarnai bisnis jual-beli mobil bekas, perparkiran, penitipan, dan pencucian mobil. Namun, begitu malam tiba, kawasan ini berubah menjadi pusat kegiatan hiburan, usaha makanan, bahkan pelacuran dan perjudian.

Wajarlah jika banyak orang mengais rezeki di tempat itu. Dan, kaum preman adalah kelompok yang pasti menempati pos terdepan. Mereka secara umum dibagi berdasarkan pekerjaan, wilayah, skill (ketrampilan), serta sejarah eksistensinya. Jadi, ada yang menguasai lahan parkir, juga ada yang "memegang" toko, restoran, lapak, kaki lima. Bahkan, tempat mesum dan rumah judi.

Dari sektor parkir saja, seorang preman bisa memperoleh setoran rutin antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per hari. Dari penghasilan itu, mereka menyisihkan sekian persen rezekinya untuk oknum keamanan di tingkat polsek. "Kami harus bagi-bagilah itu dengan mereka," tutur seorang tokoh preman yang dikenal di kawasan Simpanglimun.

Dewasa ini, ada dua organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang populer di kalangan kaum preman, yaitu Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) pimpinan Olo Panggabean. Di berbagai pusat keramaian dan hiburan Kota Medan, selalu saja ada preman anggota PP atau IPK yang bertindak sebagai koordinator di lapangan. Untuk itu, tentu ada upah menarik yang mereka peroleh.

"Biasanya pihak pengusaha itu mengundang kami untuk mengamankan usahanya. Kalau kerja kami bagus, kami bisa memperoleh honor bulanan. Untuk daruratnya saja, kalau rajin, Rp 100 ribu per hari itu enggak ke mana. Tapi, kalau tiap hari datang, malulah. Mau ditaruh di mana muka ini?" kata Iwan Lubis. Pria bertampang sangar dan berambut gondrong itu tak lain seorang pengurus Pemuda Pancasila wilayah pusat bisnis Kota Medan. Menurut sejumlah pengusaha, rata-rata harga keamanan bulanan dari pengusaha berkisar antara Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu untuk tiap OKP.

Namun, urusan bagi-bagi rezeki itu terkadang memunculkan persoalan di antara "penguasa keamanan" itu sendiri. Yang masih segar dalam ingatan warga Medan, ketika terjadi pertarungan bersenjata antara Serka Marlon yang polisi dan sejumlah oknum tentara bersenjata sangkur.

# SURABAYA

Pasca-penembakan misterius 1983-1984, geng pada bubar di kota ini. Kini yang banyak "memegang" adalah kelompok Madura. Ada dua pentolan mereka yang sering disebut-sebut, yaitu Pak Wi dan Mbah Nari. Mereka bergerak di bidang perparkiran, pasar, dan jasa pengamanan. Namun, untuk sektor menengah atas seperti diskotek, tempat hiburan lain, dan pusat pertokoan yang berjaya adalah Pemuda Pancasila.

* Stasiun Wonokromo

Ketika malam datang, kawasan ini berubah semarak. Musik dangdut mengalun dari berbagai sudut. Lelaki dan perempuan tumplak dalam kegiatan judi campur pelacuran. Setiap hari, aneka jenis judi memang tersedia di sini. Mulai dari kelas receh seperti gaple sampai cap jie kie yang bernilai jutaan rupiah. Semua itu berjalan aman berkat kepiawaian seorang kepala keamanan ternama di sana. Lelaki itulah yang bertugas menjaga wilayah stasiun dari gangguan orang luar, termasuk meladeni razia atau sekadar kontrol situasi keamanan dari aparat resmi.

* Terminal Bungurasih

Sekelompok preman sudah tinggal di Terminal Bungurasih, jauh sebelum tempat itu dibangun pada tahun 1990. Di sana pernah lahir seorang tokoh preman terkenal bernama Mat Oyik. Ia kini menjadi pengusaha dan mengorganisasi pedagang asongan. Belakangan, aparat keamanan getol menyatroni, gara-gara wilayah tersebut menjadi tempat perdagangan ekstasi dan putauw, di samping makin seringnya aksi kejahatan penodongan.

* Pelabuhan Tanjungperak

Dua tindak kejahatan yang sering terjadi di wilayah pelabuhan adalah pemerasan dan perampokan. Itu belum termasuk penjambretan, penodongan, perampasan, dan penipuan. Sederet tempat yang menjadi langganan aksi pemerasan dan perampokan, misalnya, dermaga Nilam, Mirah, Berlian, Jamrud, dan Kalimas. Satu atau sekelompok kecil preman biasanya menguasai tempat itu. Namun, agak sulit mengidentifikasi siapa saja penguasa di sana, kecuali satu nama yang cukup dikenal: John Kelor.

# SEMARANG

Para penguasa Kota Semarang membagi "kue" kekuasaannya ke dalam tujuh bagian, yaitu Pasar Johar, Simpanglima, Karangayu, Banyumanik, Peterongan, Pelabuhan, dan stasiun. Kemudian, tiap bagian itu dipecah menjadi sub-sub wilayah, seperti selatan-atas, selatan-bawah, tengah, utara-atas, utara-bawah, Pasar Krempyeng, dan Pedamasan. Dari sub-sub bagian tadi, wilayah selatan-atas dan bawah merupakan daerah yang paling basah. Mungkin, itu disebabkan banyaknya pedagang kelas menengah yang mangkal di situ. Tempat lain yang tak kurang basah yakni kawasan Pedamasan. Di sini bongkar-muat barang dilakukan di bawah kontrol seorang berjuluk si Gendut. Pria berbadan subur itulah yang menetapkan uang keamanan Rp 500 sampai Rp 1.000 untuk skali tarikan. Dalam sehari terjadi minimal 25 kali bongkar-muat.

Selain jasa keamanan, bisnis-bisnis seperti perparkiran, pengamenan, dan pengemisan merupakan ladang strategis yang mampu mendatangkan uang dengan cepat. Dan, jenis pekerjaan itu terdapat hampir di semua sudut kota lumpia itu. Seperti juga di kota-kota lain di Indonesia, setiap wilayah kerja dijaga oleh preman, baik yang berasal dari jalanan maupun yang sudah ngepos di instansi tertentu. Yang patut disayangkan, selalu saja ada preman yang terlibat, atau merangkap sebagai pemain, minimal penadah barang-barang hasil kejahatan.

Dewasa ini, perebutan kursi antar-penguasa dunia hitam di Semarang makin kelihatan. Dari pengamatan D&R di lapangan, tampak ada dua kelompok yang sedang berebut pengaruh serta wilayah untuk menentukan siapa yang terkuat. Mereka ialah geng Cina asal Medan melawan geng lokal Semarang yang dibantu preman dari Jawa Timur. Separo pihak yang terlibat dalam suksesi itu, konon, kelompok preman yang selama ini menguasai bisnis judi. Ada fakta bahwa di tempat-tempat, seperti Johar Atas, Taman Parkir, Hotel Grand Rama, Depok, Kompleks Bukit Sari dan Tanah Mas, praktik perjudian dengan nilai ratusan juta per malam berlangsung aman-aman saja.

# BANDUNG

Di Bandung, orang biasanya menyebut kaum preman sebagai "okem", kependekan dari prokem. Namun, ada kesan sinis dari julukan itu, sebab istilah okem berkonotasi merendahkan pekerjaan preman. "Habis kebanyakan okem Bandung mah tukang palak, suka mabuk, dan biang reseh," tutur Tia, mahasiswi sebuah akademi swasta.

Pendapat Tia boleh jadi benar. Buktinya? Lihatlah di Terminal Kebon Kelapa pada saat jatah para okem dari sopir angkot tak terabaikan. Hampir pasti terjadi amukan para okem. Tidak jarang, mereka tega mengacak-acak tempat si sopir atau si tukang dagang yang dianggap melawan.

Contoh lain, Cicadas. Ini adalah sebuah wilayah di perbatasan Bandung Timur yang dikenal amat padat penduduknya. Di tempat ini, jatah preman biasa dipungut dari toko, pedagang, dan sopir angkot. Yang menyebalkan, kebanyakan preman Cicadas itu seperti calo. Maksudnya, mereka memunguti jatah kecil-kecil dari orang, kemudian memakai uangnya untuk minum-minum atau mabuk obat. Dengar pengakuan seorang tokoh jagoan setempat yang tidak mau disebut namanya. "Di Cicadas ini sebenarnya tak ada preman. Yang ada, siapa yang paling berani berantem atau sering keluar-masuk penjara, biasanya ia akan disegani. Itu saja."

Di pusat pertokoan Bandung Indah Plaza, seorang anggota Pemuda Pancasila (PP) asal Irian dikabarkan menguasai tempat ini. Jatah preman yang diperoleh tokoh itu berasal dari sopir taksi yang setiap saat lalu lalang di Jalan Merdeka. "Bayangkan," kata seorang calo taksi di Bandung Indah Plaza kepada D&R, "Setiap taksi harus menyetor Rp 500 sama dia. Dan, di sini ada seribu taksi yang tiap hari mondar-mandir. Apa enggak kaya dia?" Masih menurut sumber tadi, "Dulu, yang pegang wilayah ini si Martin Bule. Tapi, setelah dia mati tergilas kereta api, tak ada orang yang menguasai Bandung Indah Plaza, kecuali anak PP."

Areal yang barangkali agak aman sekarang ini, justru kawasan alun-alun yang dulunya menjadi pusat keramaian Kota Bandung. Armen, penguasa kaki lima di Jalan Dalam Kaum mengatakan, "Di sini tidak ada lagi preman yang utuh. Semua orang punya usaha. Ada yang jaga parkir, berjualan koran, calo angkot, atau pedagang kaki lima." Nama Armen memang cukup disegani di daerah itu. Terbukti kalau ada keributan di alun-alun, aparat keamanan paling hanya mencari Armen. Dulu, Bandung mempunyai sederet nama preman yang dikenal masyarakat. Salah satunya, karena keberadaan mereka yang sering membantu keamanan setempat. Aktor Rachmat Hidayat misalnya.

Masalahnya, kenapa kini kaum preman Bandung dipandang sinis oleh sebagian masyarakat?

Laporan Bambang Soedjiartono, Abdul Manan, Prasetya, Aendra H.M.

D&R, Edisi 970913-004/Hal. 102 Rubrik Laporan Khusus

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO